CATATAN BLOG FIRSTIAWAN RADCLIFE

Senin, 01 Juli 2013

Review: Man of Steel (2013)

by :firstiawan gunawan on JULI,07, 2013
Man-of-Steel-header

Pertanyaan terbesar bagi kehadiran Man of Steel adalah jelas: Apakah keberadaan Christopher Nolan di belakang karakter pahlawan milik DC Comics ini mampu memanusiawikan karakter Superman seperti halnya yang pernah ia lakukan pada Batman melalui trilogi The Dark Knight (2005 – 2012)? Wellit worksat times. Bersama dengan penulis naskah David S. Goyer – yang juga merupakan penulis naskah dari trilogi The Dark Knight, Nolan mampu menyajikan sosok Kal-El/Clark Kent/Superman sebagai sosok yang membumi – meskipun Man of Steel dengan jelas menonjolkan sang pahlawan sebagai seorang yang asing di muka Bumi. Arahan sutradara Zack Snyder juga cukup berhasil membuat Man of Steel hadir sebagai sebuah presentasi film aksi yang mumpuni. Namun, dalam perjalanan untuk mengisahkan kembali masa lalu serta berbagai problema kepribadian yang dimiliki oleh Kal-El/Clark Kent/Superman tersebut, Man of Steel sayangnya hadir dengan karakter-karakter yang kurang tergali dengan baik, alur penceritaan yang terburu-buru serta – seperti kebanyakan film arahan Snyder lainnya, berusaha berbicara terlalu banyak namun gagal tereksekusi dengan baik.
Man of Steel is the Batman Begins of this newly rejuvenated franchise. So it’s basically Superman Begins. A new beginning. A reboot. Dikisahkan, Superman, yang oleh orangtua kandungnya, Jor-El (Russell Crowe) dan Lara Lor-Van (Ayelet Zurer), diberi nama Kal-El, terlahir di sebuah planet bernama Krypton di masa-masa planet tersebut sedang menghadapi dua masalah besar: Krypton berada di ambang kehancuran dan pimpinan militer planet tersebut, General Zod (Michael Shannon), sedang melakukan kudeta terhadap para pemimpin planet – yang kemudian berusaha digagalkan Jor-El. Jor-El dan Lara Lor-Van sendiri kemudian mengirimkan Kal-El ke Bumi demi keselamatan sang anak. General Zod yang mengetahui rencana tersebut kemudian bersumpah untuk mencari Kal-El dan membalaskan dendamnya.

Sesampainya di Bumi, Kal-El kemudian diadopsi oleh pasangan petani, Jonathan (Kevin Costner) dan Martha Kent (Diane Lane), dan memberinya nama Clark Kent (Cooper Timberline/Dylan Sprayberry/Henry Cavill). Meskipun Pa Kent berusaha sekuat mungkin untuk menyembunyikan identitas Clark Kent yang sesungguhnya, namun secara perlahan, Clark Kent mulai menyadari bahwa dirinya memiliki sebuah kekuatan berbeda dari manusia biasa yang sekaligus membuatnya terasing dari pergaulan luas. Dari titik tersebut, Clark Kent memulai perjalanan untuk mulai mencari siapa jati dirinya yang sesungguhnya. Di saat yang bersamaan, General Zod akhirnya bisa mengendus lokasi keberadaan sosok yang paling dicarinya selama ini dan mulai mengerahkan pasukannya untuk menangkap Kal-El/Clark Kent.

Momen-momen keemasan Man of Steel jelas berada di bagian awal dan akhir film – plot yang bercerita mengenai kondisi planet Krypton serta momen ketika Superman akhirnya berhadapan dengan General Zod. Sementara itu, bagian pertengahan film, yang seharusnya menjadi elemen krusial bagi pembangunan ikatan emosional jalan cerita film ini kepada para penontonnya, hadir dengan penceritaan yang kurang mampu tertata dengan baik. Bagian tersebut memang dihadirkan sebagai alat untuk penyampaian kisah mengenai bagaimana karakter Clark Kent menjalani masa pertumbuhannya sebagai warga Bumi serta perkembangan psikologis sang pahlawan dalam menemukan kekuatannya. Sayangnya, Man of Steel seperti berusaha untuk merangkum banyak kisah kehidupan sang karakter namun gagal untuk dipresentasikan dengan memuaskan – lebih sering terasa sebagai kilasan kehidupan karakter Clark Kent daripada sebagai sebagai sebuah narasi lengkap. Sebuah keterburu-buruan yang menghilangkan kesempatan penonton untuk mengenal karakter Superman secara lebih mendalam sekaligus meminimalisir keterlibatan Kevin Costner dan Diane Lane yang sebenarnya tampil cukup emosional di dalam jalan cerita.

Jalan cerita Man of Steel mulai terasa kembali terorganisir dengan cukup baik ketika film ini beralih pada paruh ketiga penceritaan dimana karakter Superman dan General Zod akhirnya saling berhadapan. Meskipun terdapat beberapa inkonsistensi – karakter Superman menyarankan seorang penduduk untuk masuk ke rumahnya agar lebih aman namun di saat yang sama kemudian dengan leluasa menghancurkan berbagai gedung yang pastinya berisi banyak umat manusia saat ia sedang bertarung dengan General Zod, namun Snyder mampu menggambarkan berbagai kekacauan yang hadir di sepanjang adegan pertarungan tersebut dengan baik sekaligus meningkatkan intensitas jalan cerita yang terlanjur melempem di paruh kedua. Dukungan tata sinematografi arahan Amir Mokri dan tata musik Hans Zimmer – yang terdengar begitu familiar – juga semakin mendukung kepadatan intensitas film ini.

Berbicara mengenai pengarahan Snyder… well… rasanya sangat jelas bahwa Snyder dalam Man of Steel terkesan hanyalah sebagai boneka bagi Christopher Nolan: ia cukup bertugas sebagai pengeksekusi dari berbagai langkah penceritaan yang telah disediakan Nolan dan David S. Goyer untuknya – yang sebenarnya juga mengikuti deretan pola penceritaan mereka pada trilogi The Dark Knight terdahulu. Mereka yang mengikuti karir Snyder pasti dapat merasakan bahwa Snyder meninggalkan seluruh gaya khas pengarahan filmnya. Di sisi lain, melihat kehadiran Snyder tanpa berbagai ciri khas visual pengarahannya, bukankah adalah sangat miris untuk menyadari bahwa Snyder adalah seorang sutradara dengan visi serta kemampuan pengarahan cerita yang… dangkal?

Henry Cavill sendiri memberikan penampilan yang sangat memuaskan sebagai Clark Kent/Superman. Tidak hanya memiliki penampilan fisik yang tampan sekaligus gagah, Cavill juga mampu menghadirkan kharisma seorang good old fashioned boy next door yang memang telah menjadi karakteristik seorang Clark Kent/Superman secara alami. Kemampuan akting Cavill juga jelas tidak mengecewakan – ia mampu menghidupkan karakter yang ia perankan dengan baik tanpa pernah terasa berlebihan dalam menginterpretasikan sosok pahlawan super yang ia bawakan. Kombinasi kualitas tersebut secara mudah menjadikan Cavill sebagai pemeran Clark Kent/Superman yang paling berkharisma setelah Christopher Reeve.
Penampilan Cavill di departemen akting juga didukung dengan nama-nama yang jelas tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Sebagai karakter antagonis utama, Michael Shannon berhasil hadir dengan penampilan watak yang memikat. Terkesan seperti penampilan kelas dua dari karakter John Givings yang ia perankan di Revolutionary Road (2008) but stillit works. Meskipun hadir dalam porsi penceritaan yang terbatas, Kevin Costner dan Diane Lane mampu memberikan penampilan yang cukup emosional. Sama halnya dengan Amy Adams, yang seperti biasa, dengan mudah menyerap masuk ke dalam setiap karakter yang ia perankan – meskipun harus diakui chemistry yang ia jalin bersama Cavill masih terasa goyah di beberapa bagian. Russell Crowe juga tidak mengecewakan dalam perannya sebagai Jor-El walaupun harus diakui masih sering terlihat datar sementara Lauren Fishburne sayangnya tampil begitu sia-sia dengan perannya sebagai Perry White yang begitu terbatas ruang gerak dan perannya.

Mungkin jika Christopher Nolan dan David S. Goyer tidak terlalu bergantung dengan formula penceritaan yang telah pernah diaplikasikan sebelumnya oleh trilogi The Dark Knight dan memberikan ruang gerak yang lebih luas pada Zack Snyder, Man of Steel akan mampu tampil lebih mengesankan. Kecuali pada pendekatan yang lebih mengarah sebagai sebuah petualangan fiksi ilmiah, Man of Steel nyaris sama sekali tidak memberikan sesuatu yang baru pada presentasi ceritanya. Pemilihan Henry Cavill sebagai pemeran Clark Kent/Superman jelas layak untuk mendapatkan kredit lebih – hal yang sama juga berlaku dengan pemilihan deretan pengisi jajaran pemeran lainnya. Namun pengelolaan drama tentang pergulatan masa lalu sang pahlawan super yang berjalan terlalu datar dengan karakter-karakter pendukung yang kurang mampu tergali dengan baik yang akhirnya membuat Man of Steel terasa begitu dingin layaknya… well… potongan logam besi. Sebuah usaha yang kuat… tetapi masih belum mampu untuk tampil istimewa.

popcornpopcornpopcornpopcorn3popcorn2
Man of Steel (Warner Bros./Legendary Pictures/A Syncopy Production/DC Entertainment/Third Act Productions, 2013)
Man of Steel (Warner Bros./Legendary Pictures/A Syncopy Production/DC Entertainment/Third Act Productions, 2013)
Man of Steel (2013)

Directed by Zack Snyder Produced by Christopher Nolan, Charles Roven, Deborah Snyder, Emma Thomas Written by David S. Goyer (screenplay), David S. Goyer, Christopher Nolan (story), Jerry Siegel, Joe Shuster (comics, SupermanStarring Henry Cavill, Amy Adams, Michael Shannon, Kevin Costner, Diane Lane, Laurence Fishburne, Russell Crowe, Antje Traue, Ayelet Zurer, Connie Nielsen, Harry Lennix, Christopher Meloni, Richard Schiff, Dylan Sprayberry, Cooper Timberline, Rebecca Buller Music by Hans Zimmer Cinematography Amir Mokri Editing by David Brenner Studio Warner Bros./Legendary Pictures/A Syncopy Production/DC Entertainment/Third Act Productions Running time 143 minutes Country United States Language English

Review: Monsters University (2013)

by:firstiawan gunawan on JULI ,07,2013

monsters-university-header

When it comes to Pixar Animation Studios, everyone comes with an unreasonable high expectation. Tidak salah. Semenjak memulai petualangan mereka dengan Toy Story (1995) dan kemudian menghadirkan film-film semacam Finding Nemo (2003), The Incredibles (2004), Ratatouille (2007), WALL·E (2008), Up (2009) hingga Toy Story 3 (2010) yang tidak hanya menjadi favorit banyak penonton namun juga mengubah cara pandang kebanyakan orang terhadap film animasi, Pixar Animation Studios telah menjadi artis standar tersendiri atas kualitas produksi sebuah film animasi. Tidak mengherankan jika ketika Pixar Animation Studios merilis film-film seperti Cars 2 (2011) dan bahkan Brave (2012) yang berkualitas menengah (baca: cukup menghibur namun jauh dari kesan istimewa), banyak penonton yang mulai meragukan konsistensi rumah produksi yang kini berada di bawah manajemen penuh Walt Disney Pictures tersebut dalam kembali menghadirkan film-film animasi yang berkelas. Not wrongbut quite silly.

Sebagai sedikit pengingat: Pixar Animation Studios sama sekali belum pernah menghasilkan film-film yang berkualitas benar-benar buruk. Jika Cars (2006), Cars 2 ataupun Brave dirilis oleh rumah produksi animasi lainnya, tiga film animasi tersebut kemungkinan besar akan mendapatkan kredit lebih atas kekuatan penceritaannya. AnywayMonsters University, yang merupakan prekuel dari Monsters, Inc. (2001), juga sepertinya akan mendapatkan reaksi yang sama dengan tiga film tersebut. Harus diakui, Monsters University hadir dengan kualitas penceritaan yang biasa saja – bahkan, jika dibandingkan dengan film pendahulunya, Monsters University terasa kehilangan begitu banyak sentuhan humanisnya. Tapi apakah hal tersebut membuat Monsters University menjadi sebuah presentasi yang buruk? Hardly. Mungkin terasa terlalu familiar, namun film arahan Dan Scanlon ini jelas masih memiliki banyak taji yang akan mampu membuat banyak penonton merasa jatuh cinta pada karakter Mike dan Sully – bahkan jika mereka belum pernah menyaksikan Monsters, Inc..

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Scanlon bersama Daniel Gerson dan Robert L. Baird, Monsters University membawa kembali penontonnya ke masa dimana Michael “Mike” Wazowski (Billy Crystal) baru saja memasuki masa perkuliahannya di Monsters University dalam memenuhi impiannya di masa kecil untuk menjadi seorang monster yang mampu memberikan rasa takut kepada anak-anak kecil. Permasalahan utamanya adalah… Mike sama sekali tidak memiliki kondisi fisik yang menakutkan. Hasilnya, meskipun Mike dengan mudah menyerap berbagai ilmu mengenai tata cara menakuti seorang anak dengan baik, Mike tetap dipandang sebelah mata oleh dekannya, Dean Hardscrabble (Helen Mirren), serta kebanyakan rekan-rekan mahasiswa lainnya.

Berbeda dengan Mike, James P. “Sully” Sullivan (John Goodman) terlahir dari klan monster yang telah terkenal kelegendarisannya dalam hal menghasilkan rasa takut. Bahkan tanpa mempelajari berbagai trik menakuti yang diberikan di Monsters University, Sully dapat dengan mudah menakuti setiap anak kecil yang ia jumpai dengan raungannya dengan tegas dan kuat. Dengan perbedaan tersebut diantara mereka, jelas dapat dimengerti mengapa Mike dan Sully awalnya begitu saling tidak menyukai satu sama lain. Namun, ketika Dean Hardscrabble kemudian memberikan mereka sebuah tantangan yang dapat mengancam posisi mereka di Monsters University, Mike dan Sully terpaksa harus menyingkirkan perbedaan mereka dan mulai saling bekerjasama untuk menghadapi dan menyelesaikan permasalahan tersebut.

Well… memang benar… Sama sekali tidak ada yang istimewa dalam jalan penceritaan Monsters University – yang pada dasarnya merupakan kisah perseteruan antara kelompok jocks dan nerds di bangku kuliah yang kemudian mendapatkan penyesuaian cerita untuk dihadirkan bagi para penonton muda. Konsep-konsep mengenai dunia monster yang pernah disajikan dalam Monsters, Inc. jelas tidak lagi menjadi kejutan cerdas ketika kembali dihadirkan dalam Monsters University. Dan jika Anda adalah salah satu penonton yang mengharapkan untuk mendapatkan sentuhan emosional yang memuncak – sehingga dapat membuat Anda menangis – ketika memilih untuk menyaksikan Monsters University, maka Anda kemungkinan besar akan kecewa dengan presentasi Dan Scanlon untuk film ini. Benar bahwa Monsters University adalah sebuah film tentang rasa persahabatan dan berbagai hal yang terjadi di dalamnya, namun Scanlon sepertinya lebih memilih untuk berfokus pada sisi bersenang-senang dari rasa persahabatan tersebut daripada menghadirkan sebuah usaha untuk membuat penontonnya menangis akibat rasa haru.

Tapi, sekali lagi, Monsters University, bukanlah sebuah presentasi yang buruk dan jelas akan sulit untuk dibenci oleh penontonnya. Seperti halnya film-film hasil produksi Pixar Animation Studios, Monsters University masih dilengkapi dengan tampilan visual yang begitu memikat. Semenjak lama, Pixar Animation Studios memang telah berhasil mengaburkan (bahkan menghapus) batas antara sebuah film animasi dengan sebuah film live-action – realitas dan ilusi. Hal yang sama juga terjadi pada Monsters University. Meskipun penonton disajikan dengan karakter-karakter yang begitu berwarna dan jelas tidak akan pernah hadir dalam kehidupan nyata, adalah sangat mudah untuk terlupa bahwa presentasi yang sedang tersaji adalah sebuah film animasi akibat kemampuan Pixar Animation Studios dalam menghadirkan detil gambar yang memukau serta tata kamera yang begitu hidup dalam mengikuti setiap pergerakan karakternya.

Kemampuan Scanlon bersama Daniel Gerson dan Robert L. Baird dalam menghadirkan dialog-dialog yang cukup cerdas serta dipenuhi deretan humor yang terasa segar dan menghibur juga layak diberikan kredit lebih. Dan yang terlebih utama, para pengisi suara Monsters University berhasil memberikan kehidupan yang begitu kuat bagi setiap karakter yang mereka sajikan. Billy Crystal dan John Goodman kembali memerankan karakter Mike dan Sully dan hadir dengan chemistry yang begitu terasa erat. Helen Mirren mampu tampil sinis sebagai Dean Hardscrabble. Begitu juga dengan Steve Buscemi yang mengisisuarakan karakter Randall “Randy” Boggs yang dalam Monsters University diberikan sedikit kisah latar belakang mengapa ia menjadi sosok yang antagonis nantinya dalam Monsters, Inc..

Dan masih layaknya film-film persembahan Pixar Animation Studios lainnya, Monsters University juga dibuka dengan kehadiran sebuah film pendek yang berjudul The Blue Umbrella arahan Saschka Unseld. Berbeda dengan film-film pendek produksi Pixar Animation Studios sebelumnya, The Blue Umbrella menghadirkan teknik animasi yang diterapkan pada rekaman fotografi nyata. Sayangnya, meskipun merupakan sebuah keberhasilan teknis yang sangat menawan – serta ditemani dengan tata musik arahan Jon Brion yang begitu menghipnotis, The Blue Umbrella kurang mampu hadir dalam kualitas penceritaan yang istimewa. It’s nice but otherwise quite forgettable.

Pada akhirnya, adalah sangat mudah untuk memberikan penilaian sesaat bagi Monsters University: Anda akan menganggapnya remeh karena tidak sesuai dengan standar tinggi film-film produksi Pixar Animation Studios sebelumnya yang telah Anda tetapkan sendiri atau Anda hanya cukup menikmatinya dan mengalir dengan segala kekonyolan yang dihadirkan Dan Scanlon dalam presentasi Monsters University. Tidak mudah untuk menyingkirkan ekspekstasi tinggi pada sebuah film karya Pixar Animation Studios, tapi ketika Anda berhasil melakukannya, Monsters University akan cukup mampu menghadirkan waktu-waktu yang sangat menyenangkan untuk setiap penontonnya.

popcornpopcornpopcorn popcorn3 popcorn2
Monsters University (Pixar Animation Studios/Walt Disney Pictures, 2013)
Monsters University (Pixar Animation Studios/Walt Disney Pictures, 2013)

Monsters University (2013)
Directed by Dan Scanlon Produced by Kori Rae Written by Daniel Gerson, Robert L. Baird, Dan Scanlon (screenplay), Dan Scanlon, Daniel Gerson, Robert L. Baird (story) Starring Billy Crystal, John Goodman, Steve Buscemi, Joel Murray, Sean Hayes, Dave Foley, Peter Sohn, Charlie Day, Helen Mirren, Alfred Molina, Nathan Fillion, Aubrey Plaza, Tyler Labine, John Krasinski, Bonnie Hunt, Bill Hader, Bobby Moynihan, Julia Sweeney, Beth Behrs, Bob Peterson, John Ratzenberger, Noah Johnston Music by Randy Newman Cinematography Matt Aspbury, Jean-Claude Kalache Editing by Greg Snyder Studio Pixar Animation Studios/Walt Disney Pictures Running time 103 minutes Country United States Language English

Review: The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 (2012)





by: firstiawan gunawan on JULI,,07, 2013


o… this is the end. Hold your breath and count to ten. No… seriously. Franchise James Bond masih akan ada untuk puluhan tahun mendatang. Namun, kecuali jika Hollywood kemudian berusaha untuk mengambil keuntungan komersial tambahan dengan melakukan reboot atau mengadaptasi novel karya Stephanie Meyer menjadi sebuah serial televisi, maka The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 akan menjadi kali terakhir dunia dapat menyaksikan kisah percintaan antara Bella Swan dan Edward Cullen di layar lebar – yang tentu akan menjadi momen yang sangat menyedihkan bagi beberapa orang dan… momen yang patut untuk dirayakan bagi sebagian orang lainnya. Pun begitu, sebenci apapun Anda terhadap keberadaan franchise ini, rasanya adalah tidak mungkin untuk menyangkal bahwa keberadaan sutradara Bill Condon semenjak The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 1 mampu memberikan perubahan yang menyegarkan pada franchise ini. Dan untuk menyelesaikan tugasnya, Condon ternyata mampu memberikan kejutan yang sangat, sangat manis pada The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2. Sebuah kejutan yang sebenarnya telah lama ditunggu kehadirannya dan, untungnya, mampu dieksekusi dengan sempurna.
Melanjutkan kisah yang terputus pada The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 1, setelah hampir meninggal dunia ketika sedang melahirkan anak hasil pernikahannya dengan Edward Cullen (Robert Pattinson), Bella Swan (Kristen Stewart) kini telah berubah sepenuhnya menjadi seorang vampir – sebuah situasi yang ternyata sangat dinikmati oleh Bella. Ia kini merasa lebih hidup dari sebelumnya: ia memiliki tenaga fisik yang lebih kuat, kemampuan indera yang lebih tajam serta… ehmmm… gairah seksual yang kini tidak lagi harus disembunyikannya. Kehidupan baru Bella juga semakin diperlengkap kehadiran puterinya, Renesmee (Mackenzie Foy), yang beranjak dewasa dengan cepat, keluarga Cullen yang menerimanya dengan begitu baik, terjalinnya kembali hubungan antara dirinya dengan sang ayah, Charlie Swan (Billy Burke), serta sahabatnya, Jacob Black (Taylor Lautner), yang ternyata mampu menerima kenyataan bahwa dirinya kini telah menjadi milik orang lain.
Sayang, masa-masa indah awal pernikahan tersebut tidak berlangsung lama. Ketika salah seorang anggota kelompok vampir, Irina (Maggie Grace), melihat Renesmee dan menyangkanya sebagai seorang anak yang masih memiliki sifat manusia – sebuah hal yang sangat terlarang di kalangan vampir, ia lantas melaporkannya kepada pihak Volturi. Mengetahui hal tersebut, keluarga Cullen lalu berusaha untuk mengumpulkan seluruh klan vampir dari seluruh penjuru dunia agar dapat menyaksikan sendiri bahwa Renesmee adalah merupakan sosok vampir asli dan bukanlah seorang anak manusia yang diubah menjadi vampir seperti yang disangkakan Irina. Pun begitu, pimpinan Volturi, Aro (Michael Sheen), ternyata memang telah memiliki niat buruk terhadap klan Cullen sehingga apapun alasan yang dikemukakan oleh mereka… pihak Volturi siap untuk memeranginya.

Jangan khawatir. Seperti beberapa seri sebelumnya, The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 masih memiliki beberapa momen yang seringkali dirasakan kurang begitu esensial untuk ditampilkan, namun akhirnya disajikan dengan durasi yang terkesan dipanjang-panjangkan. Pun begitu, ketika konflik utama film ini mulai mengambil tempatnya, The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 secara perlahan mulai menemukan ritme penceritaannya yang sangat meyakinkan. Selain kisah konflik yang meruncing antara keluarga Cullen dengan klan Volturi, The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 juga mampu terasa lebih berwarna karena, untuk pertama kalinya, jalan cerita film seri ini sama sekali tidak berfokus pada kisah segitiga antara karakter Edward Cullen – Bella Swan – Jacob Black maupun dialog-dialog mesra – dan cenderung beraroma seksual – yang terjadi antara pasangan Edward Cullen dan Bella Swan. Bravo!
Dalam waktu yang lebih singkat dari The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 1, jalan cerita The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 kemudian mengenalkan deretan panjang karakter-karakter minor dengan peran dan latar belakang yang bervariasi. Walaupun kisah karakter-karakter minor ini dihadirkan dalam tempo cerita yang minim, secara mengesankan, Bill Condon mampu menggali kisah mereka dengan begitu baik. Ditambah dengan pemberian porsi penceritaan yang lebih besar terhadap klan Volturi, Condon mampu mengolah deretan kisah pendukung tersebut menjadi sokongan yang kuat bagi jalan cerita utama The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2.

Dan tentu saja… setelah sekian lama menunggu, Condon akhirnya mewujudkan impian banyak orang untuk menyaksikan kehadiran adegan kekerasan dan penuh darah – well… figuratively speaking, not literally – dalam seri franchise The Twilight Saga. Adegan pertarungan yang terbentuk antara klan Volturi dan keluarga Cullen serta deretan vampir dan werewolves yang mendukung mereka mampu dieksplorasi Condon dengan sangat, sangat menegangkan dan dipenuhi dengan begitu banyak aliran emosional. Sulit untuk membayangkan bahwa banyak orang harus menunggu selama empat tahun dan empat film sebelum akhirnya mampu benar-benar merasa terhibur dengan kehadiran franchise ini… but yahThe Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 jelas adalah sebuah hiburan yang sangat menyenangkan.
Di departemen akting, setiap pemeran film ini sepertinya telah benar-benar mampu dengan karakter yang mereka perankan. Mulai dari Robert Pattinson, Kristen Stewart – yang juga untuk pertama kali hadir dengan penampilan emosional yang lebih bervariasi – bahkan Taylor Lautner turut berhasil menampilkan performa akting yang wajar. Dari jajaran pemeran pendukung, rasanya tidak akan ada yang merasa kecewa dengan penampilan antagonis dari Michael Sheen dan Dakota Fanning. Beberapa nama, seperti Lee Pace, Maggie Grace, Billy Burke dan Peter Facinelli berhasil tampil lebih kuat dibandingkan dengan jajaran pemeran pendukung lainnya meskipun dengan porsi penceritaan yang sama minimnya.

Tata produksi The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 juga menghadirkan tata produksi yang lebih baik dari seri-seri sebelumnya. Sinematografi karya Guillermo Navarro berhasil menghadirkan pilihan-pilihan gambar yang begitu indah sekaligus kuat secara emosional. Begitu juga dengan tata musik arahan Carter Burwell yang melanjutkan kesuksesannya dalam mengarahkan musik seri ini pada Twilight (2008) dan The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 1 (2010). Condon juga menghadirkan segmen spesial yang menghadirkan seluruh jajaran pemeran The Twilight Saga semenjak seri pertamanya dengan diiringi lagu A Thousand Years, Pt. 2 dari Christina Perri dan Steve Kazee. Cukup memberikan banyak memori yang hangat mengenai keberadaan franchise ini semenjak kehadirannya empat tahun lalu.

So… yah… this is it. The Twilight Saga akhirnya memberikan penampilan finalnya. Beruntung, dibawah kepimpinan Bill Condon, dua seri terakhir The Twilight Saga mampu memberikan deretan perubahan yang menyenangkan. Puncaknya, The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 mampu dikemas menjadi sebuah sajian yang begitu memuaskan. Condon mampu mendapatkan penampilan terbaik dari jajaran pemerannya, tata produksi yang meyakinkan serta kemampuan untuk memaksimalkan jalan cerita yang memang banyak terisi momen-momen yang terkesan begitu cheesy. The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 jelas merupakan bagian terbaik dari franchise ini secara keseluruhan. Sebuah persembahan maksimal sebagai seri akhir franchise yang kemungkinan besar bahkan akan mampu memuaskan mereka yang semenjak lama membenci seri ini. So long, Bella! So long, Edward! So long, Jacob! Thank you for… yeah… those cheesy sweet memories.

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 (Lionsgate/Summit Entertainment, 2012)

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 (2012)
Directed by Bill Condon Produced by Wyck Godfrey, Karen Rosenfelt, Stephenie Meyer Written by Melissa Rosenberg (screenplay), Stephanie Meyer (novel, Breaking Dawn) Starring Kristen Stewart, Robert Pattinson, Taylor Lautner, Mackenzie Foy, Ashley Greene, Maggie Grace, Jamie Campbell Bower, Michael Sheen, Nikki Reed, Kellan Lutz, Dakota Fanning, Jackson Rathbone, Christopher Heyerdahl, Peter Facinelli, Billy Burke, Lee Pace, Christian Serratos, Elizabeth Reaser, MyAnna Buring, Noel Fisher, Joe Anderson, Cameron Bright, Angela Sarafyan, Aldo Quintino, Rami Malek, Booboo Stewart, Daniel Cudmore, Christian Camargo, Mía Maestro, Ty Olsson, Alex Meraz, Judith Shekoni, Charlie Bewley, JD Pardo, Julia Jones, Lateef Crowder, Andrea Powell, Toni Trucks, Casey LaBow, Andrea Gabriel, Austin Naulty, Kiowa Gordon, Chaske Spencer, Bronson Pelletier, Marisa Quinn, Omar Metwally, Valorie Curry, Tracey Heggins, Marlane Barnes, Guri Weinberg, Erik Odom, Lisa Howard, Bill Tangradi, Patrick Brennan, Amadou Ly, Janelle Froehlich, Masami Kosaka Music by Carter Burwell Cinematography Guillermo Navarro Editing by Virginia Katz Studio Lionsgate/Summit Entertainment Running time 116 minutes Country United States Language English

Minggu, 05 Mei 2013

5 TOKOH FAVORIT VERSI GUA YANG ADA DI FILM HARRY POTTER


 1 , michael gambon atau dikenal di film harry potter (albus wulfic brian dumbleodore)  , sosok prof . albus nya keren banget di semua film harry potter . tentunya buat aku yah , hmz . gimna yah . prof albus adalah seorang kepala sekolah yang sangat baik terhadap harry , dia selalu menolong harry pas , harry lagi ada musibah sayangnya pro. albus meninggal karana di bunuh oleh severus snape dan di film terahkirnya , dia hidup kembali dan bercerita tentang bedanya antra harry dan voldemort
2. alan rickan atau yang lebih di kenal (severus snape ) . dia berperan sebagai guru ramuan di sekolah hogwarts di mana harry bersekolah di situ , prof. snape adalah orang yang telah melindungi harry  , dari perbuatan voldemort yang selalu mengincarnya .sosok yang harus di teladanin dari pro.snape ini . cintanya yang tulus terhadap ibnya harry ,yang telah tiada yang telah di  bunuh oleh voldemort . sosok ini lakh yang aku sukai , dia rela mati di film ke 7 untuk membantu harry membongkar rahasianya selama bertahu-tahun , dan akhrnya prof .sanpe meninggal di bunuh oleh voldemort di film terahkirnya pas dia mencoba menolong harry . 
 3. ralp fienes atau yang lebih di kenal di harry potter (voldemort) . dia memaikan karakter di film harry potter yang ke 4 . di  mana dia yang telah lahir oleh suatu darah dan di campuri dengan tuluang berulang di harry potter 4 . sosok jahat inilakh yang aku sukai , kenapa aku suka dia ? karan actingnya baguz di semua film harry potter , yah lakh karana aku lebihsuka sama hidungnya yang pesek dan yang kecil itu  , dan dia khirnya meninggal di battlle final melawan harry potter di film terahkrnya ..dengan mntra kutukanya sendiri ..
 4 . maggie smith atau yang lebih di kenal di film harry potter (MC.gonnagal) . sosok dia memerankan prof. mc sangat terkena bangetdi hati gua , kenapa sangat terkena ? . di semua film harry potter dia sangat baguz sekali actingnya .
dia adalah guru perthanan terhadap ilmu hitam di hogwart . di film terahkirnya aku sangat bangga sama dia , karana telah membantu harry berperangmelawan pasukan voldemort dengan membangngukan batuz zirah , plus dengan musij yang sangat indah ,. yang bikin bulu keruduk gua merinding .



5. helana bonham carter  atau yang lebih di kenal dengan sebutan(bellastrix lestrange) . gua suka banget sama peranya dia .actingnya sangat baguz di semua film harry potter . . di memerankan film harry potter yang ke 5 ,sampai yang ke 7 dan dia harus mati mlawan nyonya weasley , yang gua ska dari dia , itu rambutnya yang selalu acak2kan di semua film harry potter , dan suara ketawanya, sayangnya dia harus meninggal di film terahkirnya .yaitu harry potter and the deathly hallows part 2


INILAH CERITA HIDUP KESEHARIAN GUA

nama gua firstiawan , gua dua bersaudara gua punya adek bernama wawan . gua masih sekolah kelas 12 yah doaiin aja moga gua lulus yah . biar dapat apa yang gua cita-citakan . keseharian gua seibuk banget yang namanya sekolah , tugas menumpuk banget, beres2 kamar , ah pokoknya sibuk banget dach .
gua simple orangnya , hidup itu ga usah di bawa buat susah tapi di bawa buat enjoy aja lakh kaya gua hehhe.....
hidup cuma sekali lho ! dan kita harus menjalakanya dengan baik .oh yah ..

gua tuh suka banget sama namanya film harry potter 1 sampai yang ke terhakir !  kenapa gua suka yah ? alasanya . film harry potter menginpirasi buat anak2 remaja sekarang tentunya gua ini . sodalirtasnya terhadap teman , sahabat , dan gua paling suka samas sikap kemandirianya itu . suka banget .gua akan melakukan apapun  yang harry potter lakukan . pokoknya harry potter tidak akan pernah mati buat gua ...

next lakh , kita lanjut lagi tentang kehidupuan gua yah , tadi ada jeda film sedikit , kwkwkkw .....
keseharuan gua di rumah yah kalo lagi lobur sekolah or ga ada keerjaan  yah nonton DVD , makan , tidur . bernafas , baca novel , komix and majalah .
gua suka banget warna biru lho ? , warna biru itu favorit gua banget ,

gua ga ganteng-ganteng banget , tapi gua punya hati yang sangat tulus banget , banget2 tulus ;3
gua ga hobi banget sama motor2ran , tapi gua hobibanget yang namanya komputer . emang dari dulu gua suka banget sama komputer ...
cita-cita gua mau jadi penulis novel terkenal (amiinn) , cerpen pendek or jadi orang sukses yang bisa ngebagngain orang tua gua ...

gua punya facebok dan twitter yah cukup lumayan banyak folowers gua walau rada berkurang sic sati persatu . buat twitter gua , kalian bisa follow untuk twitter gua . @firstiawanG ...

dan untuk facebook si juga cukup lumayanwalau banyak yang unfredns .. dan add juga may fb FIRSTIAWAN RADCLIFFE POTTER

NB ; GUA PALING GA SUKA SAMA NAMMNAYA DI BOHONHIN , HARUS JUJUR APA ADANYA ....

sekialn dari cerita gua , apabila ada kata2 yang kurang berkenan , mohon di maafkan ;3

Rabu, 01 Mei 2013

ACTREES CEWEK HOLLOYWOOD FAVORIT GUA .

BONNIE WRIGTH sejak pertama main di film HARRY POTTER  pertama yang berjudul harry potter and the sorceres stone  , gua udah suka banget . ngeliat imut nya mukanya , dan masih munggil banget ? alasanya kenapa bisa jadi favorit gua , karana dia cantik , and smart ;D
EMMA STONE , sejak pertama main di film THE AMAZING SPIDERMAN , sosok dia emang sangat terkenal sebagi pengganti marry jane , yang sebelumnya pernah di maikan oleh KRISTEN DUNTS ,tapi di film REMAKE nya di ganti menjadi , EMMA STONE ? , alasanya kenapa bisa jadi favorit gua ! actingnya yang ngelbihin kristend dunt . smart, cantik juga iya , saat ini dia sedang bermain film terbarunya .
 KRISTEN STEWART  ,huii sejak main di SEMUA FILM TWILIGTH SAGA , aku sudah suka sama nie orang . tanpang muka polosnya yang begitu imut dan cute ;D, yang buat gua sangat suka banget , dia sangat energi banget main di semua film TWILIGTH , alasnya kenapa dia bisa jadi favorit gua ? gua liat si dari mukanya , itu cute , cantik , mukanya itu lho hah, menggoda banget , dia kini sedang jalani proses ffilm terbarunya ..
EMMA WATSON ,  bhaa ,, ini mah bukan favorit lag , tapi favorit banget , banget , banget , suka bange gua sama dia dari film HARRY POTTER pertama sama akhir ,
otaknya yang sangat jenius sekali , bisa membatu harry melakukan segala hal , alasanya kenapa gua suka dan favorit bbanget sama gua ? pintar , cantik , keibuab ga yah , iya kayanya , dan IS THE GIRL A STORNG , dia kini lgi bermain di film terbarunya THE BLING RING
 CHO HANG , sejak dia pertama main di film HARRY POTTER 4 . aku juga sakua sama dia , mukanya yang kecina-cinaan gitu , membuat gua suka sama dia , actingnya sangat bguz nie orang , dia bisa membuat harry potter patah hati . alasanya kenapa gua pilih dia ? , eneergik ,cantik , smart ;)
 TERESA PALMER , semenjak dia main di film WARM BODIES. hui actingnya mantap banget dech, sosok romance nya a, keliatan banget saat pas nyembuhin semua vampire menjadi manusi . alasanya ? dia cantik ,liat aja mukanya hampir mirip kaya KRISTEN STEWART ;)
EVANA LYCH , dia nonggol di film HARRY POTTER AND THE ORDER OF THE PEHONIX ,  ,udah suka banget , actingnya is realy2 amazing banget dech, walaupun di film HARRY POTTER keliatan bodoh banget tapi dia cantik hehhe ..

10 FILM TERLARIS SEPANJANG TAHUN 2011

1. Harry Potter and the Deathly Hallows

Film Harry Potter and the Deathly Hallows, Part 2 sukses meraup pendapatan pendapatan lebih dari 1 miliar dollar AS dalam 17 hari masa penayangannya di seluruh dunia.

Di akhir pekan lalu saja, film tentang bocah penyihir ini mampu meraup pemasukan sampai 66,4 juta dollar AS. CEO Warner Bros Jeff Bewkes, Selasa (2/8/2011) di Los Angeles, mengatakan, film Harry Potterand the Deathly Hallows, Part 2 yang dirilis pada 13 Juli ini sudah memecahkan rekor pendapatan perusahaan pada tanggal 31 Juli.

Film yang banyak digemari oleh remaja dan orang dewasa itu juga turut mendongkrak pemasukan Warner Bros di kuartal II-2011 sebesar 9 persen, menjadi 3,5 miliar dollar AS.

2. Transformers: Dark of The Moon

Transformers: Dark of the Moon melesat ke puncak box office dengan perolehan USD97,4 juta. Angka itu mencetak rekor baru box office Amerika dan menggeser dominasi Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides.

Transformers: Dark of the Moon mencetak rekor baru perolehan pendapatan USD97,4 hanya seminggu sejak dirilis. Itu membuat film fiksi ilmiah ini membukukan pendapatan terbesar sepanjang tahun ini dan menggeser Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides dengan USD90,2 juta.

Film Transformers ketiga itu juga mengukuhkan diri sebagai film dengan pendapatan terbesar di hari peringatan ulang tahun Amerika (mengalahkan Spider-man 2 dengan USD88,2 juta) dan film dengan pendapatan terbesar di pekan awal Juli (mengalahkan The Dark Knight dan Pirates of the Caribbean: Dead Man’s Chest).

Transformers 3 yang menelan biaya produksi USD195 juta diharapkan mengantongi perolehan USD116 juta dalam empat pekan liburan ke depan dengan akumulasi USD181 juta. Walau begitu, Transformers 3 ini tetap tidak bisa mengungguli pendahulunya, Transformers: Revenge of the Fallen, yang meraup USD214,9 juta hanya di enam hari pertama sejak dirilis.

3. Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides

Seri keempat dari film Pirates of the Caribbean yang berjudul On Stranger Tides, sesuai prediksi langsung berhasil menjadi jawara di puncak box office chart.

Bahkan film Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides berhasil mendapatkan pendapatan $90.1 juta diminggu yang pertama. Jumlah yang lebih besar dari film yang sudah lebih dahulu masuk chart seperti Bridesmaids, Priest, Jumping the Broom, Something Borrowed, Water for Elephants dan Madea’s Big Happy Family.

4.  Kung Fu Panda 2

Kung Fu Panda 2 awalnya memiliki judul Kaboom of Doom, yang merupakan sebuah film animasi asal amerika serikat.filem animasi 3D ini mulai di putar pada 26 Mei 2011 kemaren. film kung fu panda 2 ini sebenarnya adalah lanjutan dari seri sebelumnya yang juga bernama Kung Fu Panda. Dan orang-orang yang ada dibalik layar pun juga banyak yang masih sama pada saat pengerjaan film kung Fu Panda pertama.

5. The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 1

Seri paling akhir franchise film “Twilight Saga” telah mengejutkan industri perfilman pada akhir pekan lalu, dengan perkiraan penghasilan 139,5 juta dolar AS dari berbagai bioskop Amerika Utara, dan berakhir sebagai film dengan penghasilan tertinggi.

6.  Fast Five

Film beranggaran besar pertama pada musim panas, “Fast Five”, memecahkan rekor baru saat mengumpulkan 83,6 juta dolar AS pada akhir pekan pertamanya di berbagai gedung bioskop, demikian perkiraan industri perfilman Minggu (1/5).

Penjualan tiket buat volume kelima dalam serial kejar-kejaran mobil dengan kecepatan tinggi menandai premier terbesar buat film apa pun sepanjang tahun ini, dan melampaui penghasilan film baru lain pekan lalu.

7. The Hangover Part II

The Hangover-Part II melesat ke puncak box office Amerika akhir pekan ini dengan meraih pendapatan tertinggi senilai USD86,4 juta (Rp734,6 miliar).

Film komedi yang dirilis dua tahun setelah film pertama itu dirilis pada Kamis lalu, dan diperkirakan telah meraup pendapatan USD118 juta selama empat hari. Dari hasil tersebut, The Hangover-Part II menjadi debut komedi terbaik yang pernah ada selama akhir pekan.

Kung Fu Panda 2 adalah film yang juga baru dan langsung bertengger di posisi kedua dengan pendapatan USD48 juta (Rp410 miliar).

Tak ketinggalan film Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides yang duduk di posisi ketiga setelah hanya seminggu di tempat teratas dengan perolehan USD39,3 juta.

8. The Smurfs

Hollywood tak pernah menyangka jika film animasi ‘The Smurfs 3D’ mendapat sambutan yang luar biasa dari penikmat film di seluruh dunia. Sony Pictures baru saja mengumumkan pendapatan total film tersebut yang mencapai US$ 500,28 juta atau sekitar Rp 4,5 triliun.

Sejak pertama dirilis di bioskop Amerika Serikat pada 29 Juli lalu, film yang disutradarai Raja Gosnell itu langsung berada di puncak box office bersama dengan ‘Cowboys & Aliens’. Demikian dilansir Deadline, Senin (26/9/2011).

Selain karakter animasi, ‘The Smurfs 3D’ menampilkan Neil Patrick Harris, Hank Azaria, Jayma Mays, dan Sofa Vergara. Penyanyi Katy Perry mengisi suara si pirang Smurfette tanpa proses audisi.

Melihat kesuksesan itu, tim produksi langsung berencana membuat sekuelnya. Nama Jordan Kerner santer disebut sebagai produser, namun plot film tersebut masih dirahasiakan. ‘The Smurfs 2′ rencananya akan dirilis di bioskop Amerika Serikat pada Agustus 2013.

‘The Smurfs’ pertama kali muncul dalam komik garapan Pierre Culliford. Sekumpulan makhluk berwarna biru yang tinggal di tengah hutan itu semakin populer ketika tampil di serial animasi yang diputar pada dekade 80-an.

9. Cars 2

Film animasi produksi Pixar, ‘Cars 2′ menduduki peringkat pertama box office Amerika Serikat di minggu pertama pemutarannya. Dengan pendapatan US$ 68 juta, film petualangan komedi itu berhasil melampaui prediksi sebelumnya yang diperkirakan menghasilkan US$ 55 juta.

‘Cars 2′ yang merupakan sequel ‘Cars’ juga digarap oleh sutradara John Lasseter. Film tersebut menampilkan aktor Owen Wilson sebagai pengisi suara Lightning McQueen.

10. Rio

Tahta Box Office periode Jum’at hingga Minggu menempatkan film Rio sebagai jawara.Film Animasi komedi ‘Rio’ menjadi film dengan pendapatan terbesar dalam minggu pertama pemutarannya di seluruh dunia. Film tersebut berhasil meraih 35 juta poundsterling atau sekitar Rp 493 miliar.

Film garapan sutradara Carlos Saldana itu dibuat sebagai tribute untuk kota asalnya di Brazil. Cerita dalam film itu diadaptasi dari petualangan burung macaw lokal yang kembali ke rumahnya.